Bahaya Madu pada Bayi

Madu merupakan salah satu jenis “obat” alami yang sudah terbukti khasiatnya. Salah satu manfaat madu pada anak adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh si kecil. Akan tetapi, secara medis, pemberian madu tidak disarankan untuk bayi berusia kurang dari setahun.

Madu bisa mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini memproduksi zat beracun yang bisa menyebabkan penyakit botulisme pada bayi. Meski kasusnya jarang, penyakit tersebut bisa berakibat serius.

Peringatan akan bahaya madu untuk bayi itu kembali disampaikan para ahli dari The Food Standards Agency, Inggris, setelah terjadinya tiga kasus penyakit botulisme tahun lalu. Sebelumnya dalam kurun waktu 30 tahun hanya terdapat 11 laporan penyakit botulisme.

Pada bayi yang sistem pencernaannya belum sempurna, bakteri Clostridium botulinum bisa berkembang dan memproduksi racun mematikan penyebab botulisme.

Bayi yang menderita botulisme akan mengalami kelemahan otot dan masalah pernapasan. Karena itu, para ibu tidak disarankan memberikan madu, bahkan sebagai obat atau pemanis makanan.

“Bayi berusia kurang dari enam bulan sebaiknya hanya diberikan ASI. Meski madu berkhasiat menyembuhkan batuk, sebaiknya jangan berikan kepada bayi karena botulisme merupakan penyakit serius. Risikonya tidak sebanding dengan manfaatnya,” kata Sam Montel, ahli nutrisi dari Food Standards Agency.

Bila bayi sudah diperkenalkan makanan padat, orangtua disarankan untuk menghindari pemanis pada makanan atau memberikan makanan dan minuman manis.

Dampak Negatif Susu Formula

Pemberian susu formula harus dibatasi atas indikasi yang tepat. Pemberian susu formula dapat membawa dampak yang sangat merugikan, yaitu meningkatnya morbiditas dan mortalitas bayi. Bayi yang tidak memperoleh zat kekebalan pada Air Susu Ibu (ASI) rentan akan infeksi. Kekurangan gizi dapat terjadi apabila susu formula tidak diberikan sesuai dengan petunjuk penggunaan. Bayi yang diberi susu formula lebih mudah terserang diare dan alergi serta mengalami gangguan pertumbuhan mulut, rahang dan gigi. Fakta menunjukkan bahwa penggunaan susu formula di negara-negara berkembang dapat mengakibatkan Trias Jelliffe yaitu diare akibat infeksi, moniliasis pada mulut dan marasmus.

Jika penyiapan tidak memenuhi syarat kebersihan (misalnya peralatan yang digunakan tidak bersih dan air pencampur tidak dimasak dengan sempurna), memberikan susu formula melalui botol sama saja dengan menambah bibit penyakit ke dalam tubuh bayi (sumber infeksi). Selain itu, susu yang tidak disimpan di dalam lemari pendingin mestinya tidak digunakan lagi (jika disimpan di lemari pendingin masih dapat digunakan paling lama 4 jam).

Bayi yang diberi minum ASI harus bekerja keras mengisap puting susu sehingga akan segera berhenti mengisap jika telah merasa kenyang. Sebaliknya, bayi peminum susu formula secara pasif menanti tetesan susu dari botol sehingga tidak akan berhenti meneguk susu kecuali botolnya telah kosong. Hal ini dapat menyebabkan kegemukan (obesitas).

Bagi ibu, pemberian susu formula memang tidak praktis dan ekonomis. Lebih jauh dari itu, pemberian susu formula akan mengurangi hubungan kasih sayang antara ibu dan anak yang dapat menghambat perkembangan mental selanjutnya.

Kenali warna Feses Bayi Sehat

ormal atau tidaknya sistem pencernaan bayi, dapat dideteksi dari warna fesesnya. Umumnya, warna-warna feses bayi dibedakan menjadi kuning atau cokelat, hijau, merah, dan putih atau keabu-abuan.
Kuning
Warna kuning adalah indikasi feses normal. Susu yang dikonsumsi bayi amat mempengaruhi warna fesesnya. Bila bayi minum ASI secara eksklusif, tinjanya berwarna lebih cerah dan cemerlang atau didominasi warna kuning, karenanya disebut golden feces. Berarti ia mendapat ASI penuh, dari foremilk (ASI depan) hingga hindmilk (ASI belakang).
Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa waktu di dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi (mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.
Sedangkan bila yang diminum susu formula, atau ASI dicampur susu formula, warna feses akan menjadi lebih gelap, seperti kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.
Hijau
Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu, warna ini tidak boleh terus muncul karena artinya cara ibu memberi ASI-nya belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilksaja, sedangkan hindmilk-nya tidak. Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi ASI sangat melimpah.
Di dalam payudaranya, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI belakang (hindmilk). Pada saat bayi menyusu, ia akan selalu mengisap ASI depan lebih dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa tapi rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering lapar. Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau foremilk yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung banyak lemak. Lemak ini yang membuat tinja menjadi kuning. Nah, kalau bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak, sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik).
Jika warna feses hijau dan kuning, berarti bayi mendapat ASI yang komplet, dari foremilk sampai hindmilk.
Merah
Warna merah pada kotoran bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertai. Namun dokter tetap akan melihat, apakah merah itu disebabkan darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya.
Jika bayi sempat mengisap darah ibunya pada proses persalinan, maka pada fesesnya akan ditemukan bercak hitam yang merupakan darah. Umumnya bercak itu muncul selama satu sampai tiga hari. Bila darah itu tetap muncul pada fesesnya (bisa cair ataupun bergumpal), dan ternyata bukan berasal dari darah ibu, maka perlu diperiksa lebih lanjut. Kemungkinannya hanya dua, yaitu alergi susu formula bila bayi sudah mendapatkannya, dan penyumbatan pada usus yang disebut invaginasi. Dua-duanya butuh penanganan. Kalau ternyata invaginasi, bayi harus segera dioperasi.
Darah sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler, karena makanan bayi belum banyak ragamnya. Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain, seperti perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.
Putih/Keabu-abuan
Waspadai segera jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning pucat atau putih keabu-abuan. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih menunjukkan gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau penyumbatan saluran empedu. Ini berarti cairan empedunya tidak bisa mewarnai tinja, dan ini tidak boleh terjadi karena sudah ‘lampu merah’. Bila bayi sampai mengeluarkan tinja berwarna putih, saat itu juga ia harus dibawa ke dokter. Jangan menundanya sampai berminggu-minggu karena pasti ada masalah serius yang harus diselesaikan sebelum bayi berumur tiga bulan. Sebagai langkah pertama, umumnya dokter akan segera melakukan USG pada hati dan saluran empedunya.
Jangan terlambat membawa bayi ke dokter. Bila bayi baru dibawa ke dokter di atas usia tiga bulan, umumnya sudah mengalami kerusakan hati. Pilihannya tinggal transplantasi hati yang masih merupakan tindakan pengobatan yang sangat mahal di Indonesia.

SUSU FORMULA UNTUK BAYI

Bila karena alasan tertentu bayi tak bisa mendapatkan ASI, maka susu formula memang tepat dijadikan penggantinya. Namun, susu ini tak bisa disamakan dengan ASI karena tak ada satu pun susu formula yang kandungan gizinya dapat menyamai ASI. Terutama karena protein hasil olahan tubuh ibu sama sekali berbeda dari protein olahan tubuh sapi.

Selewat usia bayi, susu formula bukan lagi merupakan pengganti ASI tetapi suplemen atau pelengkap makanan yang berfungsi membantu pertumbuhan anak. Yang perlu dipahami, kebutuhan zat gizi masing-masing golongan usia anak adalah berbeda. Ada golongan usia 0-1 tahun, 1-3 tahun, 3-5 tahun dan 6 tahun ke atas. Di pasaran, penggolongan susu formula berdasar usia seharusnya mempermudah orang tua dalam memilihkan susu untuk buah hatinya. Namun kenyataannya, penggolongan ini sering justru membingungkan, bukan? Nah, sebelum tersesat, baca dulu panduannya berikut ini. 

 

BEBERAPA YANG MESTI DIPERHATIKAN

Faktor Usia

Klasifikasi susu berdasar usia tentu bukan tanpa alasan. Susu formula untuk bayi saja dibedakan menjadi dua, yaitu:

– susu formula awal untuk bayi usia 0-6 bulan

– susu formula lanjutan untuk bayi usia 6-12 bulan.

Mengapa perlu dibedakan? Karena kandungan susu dalam masing-masing penggolongan tersebut disesuaikan dengan kemampuan organ pencernaan bayi. Bayi usia 6 bulan ke bawah tentu sistem pencernaannya belumlah sesempurna sistem pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas.

Reaksi Cocok atau Tidaknya

Bahan dasar susu formula yang tidak sama dengan ASI kadang menimbulkan masalah tertentu, di antaranya:

– Sembelit atau susah buang air besar akibat adanya kandungan protein “rumput” sapi (kasein).

– Reaksi alergi seperti kulit jadi kemerah-merahan, gatal-gatal, saluran napas berlendir, dan diare.

– Sering muntah dan kembung

– Berat badan tak kunjung naik atau anak mudah sakit.

Jika si kecil menunjukkan salah satu reaksi tersebut setelah mengonsumsi susu formula, sebaiknya hentikan pemberiannya. Konsultasikan pada dokter anak mengenai kemungkinan mengganti jenis susu formula. Perhatikan juga ada tidaknya reaksi ketika susu formula awal diganti dengan susu formula lanjutan.

Singkatnya, dalam memilih susu formula perhatikan:

– Rasa utamanya agar bayi benar-benar suka.

– Manfaatnya, yaitu terbukti baik untuk tumbuh kembang bayi.

– Kecocokannya, yaitu tidak menimbulkan efek samping seperti alergi, diare, atau sembelit.

Jenis Susu Formula

Tidak semua susu formula cocok dengan kebutuhan bayi meski sudah dipilih berdasar usia. Beberapa anak tertentu ada yang alergi terhadap susu sapi. Untuk kasus seperti ini biasanya dokter akan menganjurkan untuk menggantinya dengan susu yang terbuat dari kacang kedelai. Kalau susu kedelai pun ternyata menimbulkan masalah, alternatif lainnya adalah susu elemental atau susu formula hidrolisa. Inilah jenis-jenis susu:

a. Susu formula berbahan dasar susu sapi

Dokter akan menyarankan susu jenis lain, semisal susu kedelai bila bayi dinilai sangat peka terhadap kandungan susu sapi.

b. Susu formula berbahan soya atau kedelai

Tak jarang ada juga bayi yang alergi susu sapi sekaligus alergi soya. Bayi yang alergi terhadap kedua sumber protein ini biasanya disarankan mengonsumsi susu alternatif lain, yaitu golongan susu hipoalergenic .

c. Susu formula hidrolisa atau susu elemental

Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino. Jadi, kandungannya bukan lagi protein, melainkan “bangunan” protein yang paling kecil. Biasanya pada kemasannya bertuliskan HA atau hipoalergenic. Susu jenis ini memang khusus untuk bayi yang alergi.

Tentu saja pemberian susu khusus ini harus dengan sepengetahuan dokter. Yang juga perlu diperhatikan adakah indikasi penyakit lain, kandungan apa saja yang harus dihindari dan berapa takaran seharusnya.

Kandungan Gizi

Sebenarnya, semua susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran memiliki kandungan gizi yang sama. Pada prinsipnya semua sudah diupayakan mendekati komposisi ASI dengan kandungan sesuai standar yang ditetapkan WHO sebagai badan kesehatan dunia. Selain itu, kadar kandungan gizinya pun disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi, tidak boleh lebih tinggi ataupun lebih rendah. Ingat, kebutuhan zat gizi bayi berbeda sesuai kelompok usia.

Kandungan gizi susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan lebih spesial, karena secara alami, usus bayi kecil belum mampu mencerna nutrien susu dengan baik. Masih rentannya bayi dalam kelompok usia ini membuat susu yang dikonsumsinya pun dibagi lagi secara spesifik. Di antaranya susu untuk bayi yang lahir cukup bulan, susu untuk bayi yang lahir kurang bulan ataupun yang lahir cukup bulan namun dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Untuk bayi 6 bulan ke bawah yang lahir kurang bulan atau cukup bulan tapi dengan BBLR, komposisi nutriennya diformulasikan lebih rendah dari susu formula untuk bayi enam bulan ke bawah yang cukup bulan. Pembedaan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kondisi bayi yang daya serapnya terhadap nutrien masih belum optimal, terutama ginjalnya.

Adapun susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan secara umum digolongkan menjadi dua:

1. Formula adaptasi

Susu formula jenis ini mempunyai kandungan sebagai berikut:

* Lemak

Disarankan mempunyai kadar lemak antara 2,7-41 g setiap 100 ml atau setara 8,5%. Dari jumlah ini, 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.

* Protein

Kadarnya harus berkisar antara 1,2 sampai 1,9 g/100 ml, dengan rasio lakalbumin/kasein kurang lebih 60/40. Karena itu komposisi asam aminonya harus identik dengan protein yang terdapat dalam ASI. Alasannya, hanya protein itulah yang bisa dimanfaatkan bayi.

* Karbohidrat

Disarankan kandunganya antara 5,4 sampai 8,2 g bagi tiap 100 ml. Karbohidratnya dianjurkan terdiri atas laktosa dan selebihnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Dalam hal ini tidak dibenarkan menggunakan sumber karbohidrat dari tepung, madu, atau susu yang diasamkan.

* Mineral

Sebagian besar mineral dalam susu sapi adalah natrium, kalium, kalsium, fosfor, magnesium dan klorida. Karena itu komposisinya harus diturunkan sekitar 0,25 sampai 0,34 g tiap 100 ml. Ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik, selain timbulnya gangguan hipertensi di kemudian hari.

* Vitamin

Harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.

* Energi

Harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal.

2. Formula awal lengkap

Sesuai namanya, susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk bayi baru lahir. Sekalipun demikian, susu ini sedikit berbeda dari formula adaptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi karena rasio proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio protein yang terkandung dalam ASI. Begitu juga dengan mineral yang lebih tinggi dari susu formula adaptasi. Keuntungan susu formula jenis ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.

Susu formula untuk bayi 6 bulan ke atas mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun susu awal lengkap. Rasio proteinnya pun tidak mengikuti rasio yang terdapat dalam ASI. Sedangkan kadar beberapa mineral, karbohidrat, lemak dan energinya lebih tinggi. Ini dimaksudkan untuk mengimbangi kebutuhan anak yang sudah semakin aktif dan sedemikian cepat tumbuh kembangnya.

Perbedaan paling nyata dalam kebutuhan zat gizi bayi 6 bulan ke bawah dan 6 bulan ke atas adalah kalorinya. Kalori yang dibutuhkan bayi usia 6 bulan ke bawah per hari hanya sebesar 560 kkl atau lebih, sedangkan bayi usia 6 bulan ke atas adalah 800 kkl per hari atau lebih.

* Kandungan Zat Tambahan

Kemajuan teknologi memungkinkan susu formula yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya, yakni dengan diformulasikan sedemikian rupa sehingga makin mirip dengan ASI. Salah satunya adalah penambahan DHA. Penambahan ini dibolehkan karena zat tambahan tersebut merupakan zat-zat mikro. Hanya saja penambahannya pun harus mengikuti standar yang berlaku. Yang tak kalah penting, orang tua harus segera memastikan cocok atau tidaknya si bayi mendapat susu tersebut. Bila ternyata tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Asal tahu saja, DHA yang berasal dari ikan berpotensi menyebabkan alergi. Belakangan beberapa produsen susu menggunakan DHA/AA yang bersumber dari bahan nonikan.

* Porsi Pemberian

Banyaknya susu formula yang diberikan kepada bayi tentu saja tergantung pada kebutuhan. Umumnya sampai berusia 3 atau 4 bulan, bayi mendapat susu sekitar 180 ml yang diberikan setiap 2-3 jam. Meski begitu, prinsip on demand juga berlaku dalam pemberian susu formula. Begitu bayi menangis karena lapar meski mungkin belum waktunya, maka berikan saja sesuai keinginannya.

Sementara susu formula lanjutan untuk bayi 6 bulan ke atas bisa diberikan 2 kali sehari masing-masing sebanyak 180-200 ml. Lo, mengapa cuma 2 kali? Di usia ini bayi sudah mendapat makanan setengah padat (bubur susu, nasi tim yang disaring, dan seterusnya). Untuk jadwalnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan individual si bayi.

Usahakan minum susu tidak berbarengan atau berdekatan dengan waktu makan utama. Selain membuat anak jadi enggan makan karena sudah kenyang duluan, penyerapan kalsium pun jadi terganggu. Tenggang waktu ideal minum susu adalah 2-3 jam sebelum atau sesudah waktu makan makanan utama

Dedeh Kurniasih/Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita

Konsultan Ahli: dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Pondok Indah, Jakarta; Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A(K) dari RSAB Harapan Kita, Jakarta

ALASAN TAK MEMBERI ASI

Semua ibu tentu ingin memberi yang terbaik untuk bayinya, termasuk ASI. Namun, keinginan itu sulit diwujudkan bila ibu dalam kondisi:

*Stres, sehingga menghambat produksi ASI.

*Puting ibu masuk ke dalam sehingga bayi kesulitan mengisap ASI.

*Menderita sakit tertentu semisal kanker atau jantung dan harus menjalani pengobatan segera. Ini berarti si ibu harus mengonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi.

*Kecanduan narkotika dan zat aditif lainnya (NAZA)

*Tak jelas, seperti anggapan bayinya menolak atau diare gara-gara minum ASI dan sebagainya, meski kasus seperti ini sangat jarang terjadi.

Kombinasi Makanan Untuk Kesehatan Lambung & Pencernaan

Katanya, untuk menjaga keseimbangan kesehatan tubuh, kita kudu mengatur pola makan yang seimbang. Korelasinya memang dengan alur sistem pencernaan yang lebih teratur. Dalam beberapa literature, istilah keseimbangan itu disebut dengan food combining [FC]. Seberapa besar FC berpengaruh pada pencernaan dan kesehatan itu sendiri?

Beberapa ahli yang selalu menyarankan FC, selalu mengatakan apa yang harus dilakukan dengan FC tetap harus memperhatikan siklus pencernaan tubuh manusia. Alurnya yakni pencernaan-penyerapan-pembuangan, yang ternyata berlainan intensitasnya pada pagi, siang, dan malam. Selain itu, dalam FC juga diperhitungkan sifat asam-basa makanan, sehingga ada kombinasi-kombinasi makanan tertentu yang tidak dianjurkan, karena menghambat kelancaran kerja pencernaan tubuh.

Patut Anda perhatikan ketika makan pagi, adalah siklus pencernaan. Pencernaan sangat intensif antara pukul 12.00 (tengah hari) dan pukul 20.00 (8 malam). Pada siklus ini energi tubuh lebih banyak dipusatkan ke fungsi pencernaan. Sepanjang siklus ini merupakan saat yang tepat untuk mengisi lambung dengan makanan padat. Kalau pada siang hari perut tak terisi, Anda akan merasa sangat lapar.

Jika fungsi pencernaan bekerja maksimal, dengan sendirinya penyerapan zat gizi akan berjalan lancar, dan pembuangan racun tubuh pun tidak terhambat. Hasilnya, pastilah tidak bisa lain adalah tubuh yang sehat. Sebagian besar makanan mengandung semua unsur gizi yang diperlukan tubuh manusia terutama hidrat arang, protein, dan lemak. Kadar masing-masing unsur gizi tersebut dalam setiap jenis makanan tidak ada yang sama, tetapi secara keseluruhan umumnya setiap jenis makanan memiliki satu unsur gizi dominan. Secara alamiah, kondisi ini selaras dengan pencernaan manusia yang tidak memiliki kemampuan mencerna unsur-unsur gizi yang sama dominannya sekaligus.

Pencernaan manusia tidak dapat mentolerir terlalu banyak unsur dominan yang berbeda. Campuran aneka makanan yang unsur-unsur dominannya berbeda akanmengubah komposisi unsur makanan secara total. Akibatnya, kadar unsur yang tadinya tidak dominan bisa menjadi sama atau hampir sama kadarnya dengan unsur yang sudah dominan.

Buat Anda yang menderita tukak lambung, ada peradangan lambung, artinya pencernaan sensitif, soal makanan juga harus diperhatikan baik-baik. Pencernaan sensitif bisa disebabkan karena kelainan genetik atau bisa juga karena peradangan pada saluran pencernaan. Penyandang masalah ini harus benar-benar memperhatikan kombinasi makanan. Sebab kombinasi seringan apapun, jika tidak serasi, sudah menimbulkan masalah yang mungkin pada sebagian orang tidak terlalu dirasakan.

Hal penting lain, yang erat kaitannya dengan pencernaan, lambung dan pola makan kita adalah, mitos makanan asam dapat membantu fungsi asam lambung  adalah mitos yang sangat keliru. Suasana lambung justru sudah cukup asam pada saat pencernaan daging sedang berlangsung karena enzim pencerna protein sangat aktif dalam suasana tinggi asam atau pH 2,o-4,0. Naik turunnya tingkat kesamaan asam lambung sangat tergantung pada jenis protein yang dikonsumsi. Jika pH protein sudah terlalu rendah, tambahan makanan rasa asam (acidic food) akan lebih meningkatkan kesamaan asam lambung.

Secara garis besar, makanan tinggi protein sebaiknya tidak dikonsumsi bersama makanan yang asamnya sangat tinggi seperti buah-buahan rasa asam, sayuran yang diolah dengan asam laktat (cuka), atau asam-asam lainnya. Kecuali asamnya hanya digunakan sedikit, misalnya air jeruk nipis untuk mengurangi bau amis ikan. Pengecualian ini tidak berlaku jika jeruk nipisnya dilumurkan pada ikan yang sudah diasamkan dengan cuka.  Sudahkah Anda perhatikan food combining Anda?

MITOS & FAKTA Seputar Kesehatan Mata Anak

NFORMASI TENTANG MATA YANG BEREDAR DI TENGAH MASYARAKAT KITA BANYAK DITURUNKAN DARI GENERASI KE GENERASI. SUDAH SAATNYA MEMILAH MANA YANG FAKTA DAN MANA YANG SEKEDAR MITOS.

mata_anak“Makan banyak wortel mencegah mata minus”

Wortel terkenal tinggi vitamin A dan karoten yang memang penting untuk mata.Tetapi ingat, terlalu banyak asupan vitamin A malah bisa membebani kerja hati, yang juga memproduksi vitamin A.  Sayuran lain juga mengandung manfaat untuk mata. Jenis yang berdaun semisal bayam sangat kaya akan lutein, yaitu pigmen yang mampu menyerap sinar biru UV, bagian dari gelombang cahaya matahari yang paling merusak retina. Beberapa riset menunjukkan, asupan lutein yang cukup setiap hari terbukti semakin memperkecil risiko retina mengalami degenerasi makula dan hilangnya penglihatan di hari tua.Biasakan mengonsumsi berwarna-warni buah dan sayuran yang disediakan oleh alam untuk memperoleh berbagai manfaat kandungan esensial.

Lalu apakah vitamin beserta “kawan-kawannya” itu benar-benar mencegah minus? Tidak. Semua zat penting itu bekerja pada saraf-saraf retina, bukan pada bagian sistem optik.Mata menjadi minus atau plus tergantung pada kelenturan lensa ketika berakomodasi, bukan karena kekurangan asupan vitamin tertentu.

“Sering mengucek mata menyebabkan kebutaan”
Tidak, namun perlu diwaspadai sebagai pertanda adanya alergi atau kelainan retina sejak lahir pada anak.Anak-anak yang mempunyai kecenderungan alergi pada mata biasanya sering merasa gatal dan refleks mengucek matanya sehingga dapat mempenga-ruhi perkembangan bentuk kornea.Kemudian soal kebersihan.Mengucek mata dengan tangan yang kotor dapat menyebabkan iritasi mata (konjungtivitis) dan bintitan (hordeolum).Sebaiknya ajarkan kepada si kecil untuk membasuh atau menyeka mata dengan air bersih matang apabila matanya terasa gatal.

“Membaca sambil tiduran berbahaya”
Yang pasti, gaya membaca seperti ini membuat mata cepat lelah. Paling ideal bahan bacaan diposisikan pada sudut 60 derajat ke arah bawah dan berjarak sekitar 30 cm dari wajah. Jika ingin membaca sambil tiduran, pilih posisi rebah, usahakan tubuh setengah duduk (bersandar pada bantal) dan kepala tegak.

“Jangan nonton televisi dekat-dekat! Nanti matanya rusak!”
Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan demikian akan merusak mata. Tetapi Anda perlu waspada jika anak terlalu sering melihat atau menonton terlalu dekat obyek, bisa jadi pertanda penglihatannya memang terganggu. Ia kesulitan melihat sehingga mendekatkan diri kepada obyek, sedekat yang ia perlukan. Idealnya, jarak menonton TV adalah 4 x diagonal layar TV. Jadi jika diagonal layar TV 50 cm, maka jarak terbaik untuk menonton adalah 2 meter. Kadang anak mendekat dengan televisi karena ingin menyentuh tokoh-tokoh cerita, atau merasa dirinya bagian dari cerita dalam TV. Kebiasaan ini akan hilang sejalan pertambahan usianya. Anak-anak bisa fokus dekat tanpa kelelahan mata, jauh lebih baik daripada orang dewasa. Ketika si kecil menonton TV, mintalah agar ia sesekali melihat jauh, yaitu melepaskan pandangan ke obyek penglihatan yang jauh agar otot mata rileks, misalnya pemandangan luar jendela, kebun, atau ruangan lain yang terlihat dari tempat anak duduk. Ingatkan juga untuk melihat jauh setiap anak melakukan near-work activity, misalnya membaca.

”Juling pada bayi nantinya normal sendiri”
Salah! Anak-anak tidak tumbuh juling alias strabismus.
Bayi-bayi usia 0-4 bulan memang biasa terlihat juling ketika mereka berusaha berfiksasi, namun keadaan itu akan berhenti sendiri sejalan dengan kemampuan fiksasi yang membaik. Tetapi jika setelah usia 4 bulan mata tetap juling meskipun tidak sedang berfiksasi pada obyek yang dekat mata, segeralah periksakan anak ke dokter mata untuk memastikan juling atau tidak. Strabismus yang timbul sejak lahir umumnya ditangani dengan prosedur bedah. Menurut ahli strabismus Dr. Gusti G. Suardana, SpM, “Target bedah strabismus secara umum terbagi dua, yaitu binocular vision dan kosmetik. Target tertama lebih bisa dicapai jika tindakan bedah dilakukan saat usia pasien masih kecil.” Jika dibiarkan saja, peluang untuk mendapat binocular vision hilang, dan dapat berkembang menjadi amblyopia atau mata malas. Ingat, otak cenderung mensupresi bagian tubuh yang jarang dipakai.Pada penderita amblyopia, otak mensupresi mata yang jarang dipakai.Karena itu, mata harus terus dipaksa bekerja, kecuali kita mau otak menganggap mata itu tidak diperlukan lagi.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.